Minggu, 01 Januari 2017

Ranisa dan Setya


Setya menepati janjinya. Jam 7 kurang dia sudah sampai depan rumah Ranisa. Ayah dan bundanya Ranisa ada di samping putri mereka. Mereka mau tau laki-laki seperti apa yang mau jemput anaknya. Walaupun mereka sibuk. Tapi mereka cukup protektive kepada putrinya.

Setya mematikan motornya, dan salam kepada orangtua ranisa. “Permisi om, tante saya mau jemput Ranisa,”

Orang tua Ranisa tersenyum. “Namanya Setya juga, De?” Tanya bundanya kepada Ranisa.

“Iya mah dia namanya Setya. Udah yaa aku jalan”

“Sebentar. Kata Ranisa Rumahmu deket sini, Setya? Disebelah mana?” Tahan ayahnya Ranisa.

“2 blok dari sini om. Rumah nomer 4.” Jawab setya seadanya.

“Rumahnya pak RW?”

“iya, om.”

“Kamu anaknya pak RW? Kok saya ga pernah lihat?”

“Saya baru pindah ke Jakarta om. Udah 6 tahun di kampung.”

“Pantesan saya baru melihat kamu di sini. Jadi ini yang baru, De? Selera kamu bagus juga.” Setya hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya Ranisa. Dia mengerti maksudnya tapi dia ga mau memperpanjang.

“Bukan ayah. Dia ketua kelas aku. Aku minta tolong bawain ini fotocopyan. Kan berat kalau aku bawa sendiri.” Jawab Ranisa malu, dia ga enak sama Setya karena ayah dan bundanya jadi mikir kalau dia pacar Ranisa yang baru. “Udah Yah, Bun, Ade pergi dulu ya.” Pamit Ranisa sambil mencium tangan orang tuanya lalu dia mengambil goody bag yang berisi kertas fotocopyan.

“Sini Ran biar aku aja yang bawa,” kata Setya sambil mengambil goody bag dari Ranisa, lalu dia pamit kepada orangtuanya Ranisa, “om, tante kami berangkat dulu ya.”

“Iya hati-hati, ade pulang nanti sama Setya lagi”

“engga bun nanti ade pulang sendiri.”

“kok pulang sendiri?”

“Nanti saya anter kok om, tante.” Jawab Setya, padahal dia hanya niat untuk membantu membawa fotocopyan, tapi jadi berasa kaya abis kenalan sama calon mertua. Kalo gini mah ga enak kalo ga bareng sama Ranisa lagi. Tapi gapapalah rumahnya deket ini, pikir Setya.

“Setya maafin orang tuaku ya. Padahal aku udah bilang kamu bukan pacar aku.” Kata Ranisa ketika mereka sudah jalan. “Nanti kamu ga perlu anterin aku pulang gapapa kok. Aku jadi ga enak sama kamu, sekali lagi maaf ya...” kata Ranisa, dia benar-benar merasa bersalah.

“Iya ga apa apa kok Ran. Nanti sekalian aku anterin kamu pulang juga ga apa-apa. Rumah kita searah ini.”

“Serius Set?????? Makasih banyak yaaa!”

****

“yang mana yang kamu ga ngerti?” Ini hari minggu dan Setya menepati janjinya untuk datang ke rumah Ranisa membantunya belajar.

“Ajarin ajalah semuanya yang kamu tau. Aku bingung semuanya.”

“Yaudah dari awal aja ya.” Saran Setya, lalu dia mengambil dua buku tebal. “ mau matematika dulu atau fisika?” tanyanya

“Fisikaa!”

Setya mulai mengajari Ranisa. Bagi Ranisa, Setya adalah guru yang paling enak. Karena jika Setya mengajari jadi terasa lebih mudah. Ranisa juga memang anak yang pintar, jadi jika guru yang mengajar menjelaskannya enak, dia juga gampang masuk. Tapi dosen yang mengajari fisika dasar tidak enak, jadi dia tidak terlalu mengerti.

Empat jam mereka belajar fisika, dan akhirnya selesai. “wiii makasih ya Set, aku jadi ngerti sekarang!”

“Iya gapapa, makanya kamu kalau dosennya jelasin itu dengerin.” Ucap Setya sambil mengelus kepala Ranisa.

“Aku dengerin kok, tapi emang dosennya aja yang ga enak ngajarnya.” Ranisa membela diri. “Matematikanya nanti aja yuk, kita makan dulu.”

Ranisa dan Setya turun ke bawah. Mereka mulai memasak, hanya memasak nasi goreng. Tapi kalo berdua kan lebih cepat.

“Sekarang Setya yang lama nih, De?” tiba-tiba Arinda, kakak Ranisa keluar dari kamarnya. Kamarnya dia ada di lantai bawah.”kamu masak apa? Kakak juga mau dong, laper nih.” Arinda sambil mengelus perutnya, karena kelaparan.

“Apasih kak, orang Cuma temen. Yang kemarin juga Cuma temen!” jawab Ranisa bete. Dia ga enak bahas Setya yang di kampus karena ada Setya di sini. Dia melirik ke arah Setya, dia terlihat bingung dengan pembicaraan Ranisa dan kakaknya. “Nanti aku jelasin,” bisik Ranisa.

“yaudah masaknya buruan ya kakak laper. Kalo udah nanti taro di kamar ya. Kakak mau keluar sebentar.” Jawab Arinda.

“Iya kaaak.”

Ranisa dan Setya melanjutkan  memasak. Setelah selesai Ranisa menyiapkan 3 piring untuk nasi gorengnya. Satu piring dia masukkan ke kamar kakaknya. Lalu dia kembali lagi ke dapur, mengambil piring bagiannya dan kembali ke kamarnya  bersama Setya.

“Maksud kakak kamu Setya yang lama siapa Ran?” Tanya Setya sembari mereka berjalan.

“Kamu.” Jawab Ranisa santai.

“Ada yang baru emamngnya?”

“Ada.” Ranisa jawab spontan, “Eh bukan maksudnya di kelas aku ada yang namanya Setya juga. Terus kemarin pas hari jumat dia anterin aku ke kampus bawain fotocopyan materi.”

“Emang harus dia ya yang bantuin kamu?” Setya tampak ga suka. Sepertinya dia cemburu.

“Iya Cuma dia yang bisa. Pertama, dia ketua kelas. Kedua, rumah dia di sini.”

“di sini?”

“iya di komplek ini, anak pak rw dia.”

“hmmm..”

“kok tampang kamu begitu? Cemburu ni yeee.” Ranisa meledek Setya, entah kenapa dia seneng Setya masih cemburu. “Lagian kan aku pernah bilang ke kamu di kelas ada yang namanya Setya, tapi kamu ga ngerespon. Huft. Yaudah deh aku ga ngebahas lagi.”

Mereka sampai di kamar, lalu mulai makan sambil berbincang-bincang. “emang pernah?”

“Pernah. Nih lihat ya, sebentar aku ambil hp dulu.” Ranisa mengambil hpnya di laci meja dan mulai mencari percakapannya dengan Setya ketika dia bilng ada nama Setya juga. Setelah ketemu dia menunjukkannya ke Setya. “Nih liat.”

Setya melihat-lihat obrolannya. Ternyata memang ada dan dia ga sadar, dia hanya terfokus pada chat paling bawah, “Oiya aku ga sadar, aku Cuma engeh chat kamu yang minta diajarin” jawabnya.

“Iya emang! Itu aja kamu balesnya lama” sahut Ranisa dengan nada bete.

“maaf, maaf. Aku lagi sibuk-sibuknya kemarin.”Setya merasa bersalah. Dia memang benar-benar merasa bersalah. Coba aja dia lebih perhatian, mungkin Ranisa bisa meminta bantuannya, bukan malah meminta bantuan Setya yang di kampusnya. Dia merasa cemburu, entah kenapa dia merasa bodoh beberapa bulan yang lalu melepas Ranisa. Tapi dia ga boleh plin-plan tiba-tiba sekarang meminta Ranisa balikan.

“Yaudah gapapa. Udah terjadi juga, makanya kalo sibuk lihat-lihat chat juga dong kalo lagi senggang dikit.” Saran ranisa.

“Iya deh nanti aku sering-sering chat kamu tembem,” kata Setya sambil mecubit pipi Ranisa. Dia gemas sekali dengan gadis yang pernah dimilikinya ini.


“Yaudah yuk makanannya dihabiskan dulu abis itu kita belajar lagi.” Ranisa bahagia akhirnya persoalannya dengan Setya selesai dan Setya akan chat dia lagi, semoga saja Setya bener-bener akan chat dia.

Ranisa dan Setya -bersambung-
Day 27
#30DWC

Sabtu, 31 Desember 2016

Ranisa dan Setya


Selama perjalanan pulang Ranisa dan Setya hanya diem-dieman. Ranisa sebenarnya agak risih diem aja. Karena dulu saat jalan dengan Setya naik motor atau mobil dia selalu cerita. Cerita apa saja, yang penting ada pembicaraan. Tapi Setya seperti membentuk tembok, ranisa mau ajak bicara juga ga enak.

Motor Setya memasuki gerbang perumahan. Satpam membuka portal dan mereka masuk, “rumah kamu yang mana Ran?”

“Lurus, belok kanan. Yang gerbangnya warna krem.” Setya mengikuti jalan yang ditunjuk Ranisa,  setelah melihat gerbang berwarna krem dia berhenti. “di sini?”

“iyaa.” Ranisa turun dan hendak membuka jaket.

“udah ga usah pegang aja dulu. Kamu fotocopy di mana? Nanti biar aku yang ambilin.”

“aku fotocopy sendiri di dalem.”

“sebanyak itu kamu fotocopy sendiri?”

“Iya. Emang kenapa?”

“gapapa, mau aku bantuin?”

“waaaah, boleh bangettt. Makasih ketua kelas! Makasih juga udah anterin aku sampe rumah. Oiya, Rumah kamu sebelah mana Set?”

“Masih 3 gang lagi dari sini”

“hooooo, lumayan”

“nanti mau fotocopy jam berapa?”

“sebentar lagi paling.”

“yaudah aku bantuin dari sekarang aja.”

“Boleh banget! Sebentar ya aku buka gerbang dulu” ranisa mengeluarkan kuncinya dan membuka gembok gerbang. Lalu dia membuka gerbang agar motor Setya bisa masuk. “Tolong tutup lagi ya gerbangnya, Set. Gausah digembok.” Ranisa membuka kunci rumah, lalu masuk ke dalam, “masuk aja, Set. Maaf sepi.”

“di rumah ga ada orang? Kok luar dalem dikunci?” tanya Setya bingung. Karena rumahnya kalau pagi sampai semua orang mau tidur ga pernah dikunci. Gerbang hanya ditutup biasa dan pintu rumah pun ga dikunci. Ibunya selalu ada di rumah.

“ada kok. Ada kamu, ada aku. Kita kan orang.” Jawab Ranisa sambil tersenyum.

Berarti emang ga ada orang, selama ini dia di rumah ini Cuma sendirian. Kasian juga ya. Setya menyimpulkan sendiri pemikirannya. “fotocopyannya di mana Ran?” dia tidak mau terlibat lebih jauh, jadi dia mengalihkan pembicaraan.

“ada di atas. Ayo ikut aja.”

“kamu ga takut bawa cowok ke rumah lagi sendirian?”

“Takut kenapa?” Ranisa bingung dengan pertanyaan Setya.

“Yaudahlah ayo ke atas aja..”

Rania jalan duluan ke atas, dan langsung ke ruang komputer di mana fotocopyannya berada. Dia mengajari Setya cara menggunakannya. “udah ngerti kan Set?”

“iya udah.” Jawab Setya sambil tetap mengerjakan

“aku ke kamar dulu ya mau ganti baju sekalian siapin makanan.”

Setya terdiam, ini anak sengaja atau emang polos ya? Dia ga takut gua apa-apain gitu? Setya membatin. “okee tinggalin aja dulu.”

“Setya mau minum apa?”

“terserah.”

“Sip.”

Ranisa menuju kamarnya. Menaruh tasnya dan mengambil hpnya. Dia bilang ke ayahnya kalau ada teman cowoknya yang datang untuk membantunya fotocopy. Dia tidak menunggu balasan ayahnya, hpnya langsung dia letakkan di meja belajar. Dia membuka lemari, mengambil baju terusan yang panjangnya sampai betis. Setelah itu dia ke bawah menuju dapur. Menyiapkan minuman dan makanan ringan untuknya dan Setya. Setelah itu dia kembali ke atas ke ruang komputer.

“Set, udah sampai mana?” Ranisa meletakkan nampan makan dan minuman. “itu diminum dulu aja. Maaf ya aku Cuma bikin sirup, kalau mau air putih ada kok itu galonnya.”

“Iya Ran makasih....” dia melihat Ranisa memakai baju rumahnya. Ranisa cantik pakai baju rumahan seperti ini, apalagi rambutnya digerai panjang. Biasanya dia diikat atau dikepang, kalau ke kampus pasti dia selalu modis, pikir Setya. Setya jadi gugup, di rumah berduaan doang dengan gadis polos kaya Ranisa. Selesaikan secepatnya abis itu langsung pulang! Ga boleh terlalu lama sama Ranisa di sini.

“Sini aku bantuin apa?” tawar Ranisa.

“kamu fotocopyin aja, biar aku yang streples.” Setya berdiri dari kursinya di dekat meja fotocopyan. Dia mengambil minumyang diletakkan dekat pintu.

“Minumnya duduk ya Set.”Ranisa menasehati karena Setya duduk sambil berdiri.

“Uhuk uhukk...” Setya keselak, rania langsung berdiri dan mengelus punggung Setya. Gerakan refleks kalau ada yang tersedak.

“Setya ga apa-apa?” tanya Ranisa setelah Setya ga batuk lagi, dia lalu mengambil air putih. “Ini air putih, minum dulu.” Setya mengambil minum tersebut dan menenggaknya sampai habis.

“Enggak apa-apa kok. Sori ya Ran.” Jawab Setya.

“makanya kalau minum duduk. Kan jadinya keselek tadi”

Setya hanya mengganguk, padahal dia keselek karena tadi mau ketawa Ranisa menasehatinya seperti menasehati anak kecil. Mungkin dia kualat sama Ranisa. Ranisa kembali lagi ke kursinya. Menggu mesin fotocopyan dan memberikan kertasnya ke Setya.

“Setya kamu udah kabarin orangtua kamu?”

“Udah kok.”

Ranisa mengangguk. Mereka kembali lagi fokus ke pekerjaan masing-masing. Ranisa sebenernya mau ajak dia ngomong. Tapi bingung mau ngomong apa.

Jam 7an pekerjaan mereka selesai semua. Sudah rapi tinggal besok dibawa.

“Set makan dulu ya sebentar, aku bikinin sphageti.” Nada Ranisa bukan seperti orang nawarin, tapi seperti memerintah. Setya tidak bisa menolak. Entahlah, dia rasa kasihan saja kalau menolak Ranisa. “Kamu suka kan?”

“Suka kok, rasa apa aja juga suka.”

“yaudah duduk dulu aja. Cuma sebentar kok. Ini aku ada stok spageti instan.” Ranisa sibuk memasak. 10menit kemudian spageti mereka jadi.

“Ini Set, dimakan yaa.” Rania meletakkan piring spagheti di depan Setya dan di depannya. Mereka berdua makan bersama. Setelah makan Setya pamit pulang.

“makasih ya Ran makanannya.”

“makasih juga ya ketua kelas bantuannya.” Ranisa tersenyum senang. Mungkin karena hari ini dia ada teman di rumah, jadi dia tidak sendirian. “Oiya jaket kamu masih di kamar akku, sebentar aku ambil dulu.”

“Ga usah Ran, besok aja kamu pake. Sekalian pake helm ya. Punya kan?”

“Iya punya kok.”

“Yaudah aku pamit ya. Besok aku dateng jam 7 kamu udah siap ya.”


“Oke ketuaa. Hati-hati di jalan.” Jawab Ranisa dengan bahagia.


Ranisa dan Setya -bersambung-
Day 26
#30DWC

Ranisa dan Setya


“Ranisaaa, ini tolong fotokopiin yaaa. Maaf ya nambahin.” Ivana memberikan materi kuliah Matematika dasar, dihitung ada 12 lembar, udah bolak balik lagi. 12x42, udah lebih dari 1 rim, belum lagi materi kuliah yang lain yang tadi dikasih sama pj-pj yang lain.

“Ini buat kapan Van?” tanya Ranisa setelah menghitung jumlah kertasnya.

“Jumat aja, Ran. Kan ada tugas buat minggu depannya”

“Jumat? Berarti besok dong?” kata Ranisa dengan ekspresi kaget. Masa semua fotokopian harus diabawa besok, pikirnya.

“iyaah, kenapa? Kok lo kaget gitu?”

“engga papa kok. Yaudah besok gue bawa yaa.”

“makasih ya Raniis.”

“sipsip” dia sekarang mikir, gimana besok dia bawa semua fotokopian ya? Ada tiga rim lebih kalau semuanya digabung.

Kelas hari ini sudah selsesai sampai jam 3. Saat dia mau keluar gerbang kampus. Dia melihat Setya. Oiya ya Setya kayanya rumahnya deket aku deh! Kok aku bisa lupa. Minta tolong aja coba bareng dia.

“SETYAAAA, TUNGUUUU” Ranisa berteriak, memang setya jaraknya agak jauh dengannya. Yang dipanggil diam ditempat dan menengok ke belakang. Ranisa langsung menghampiri Setya.

“Kenapa, Ran?” tanya Setya setelah Ranisa menghampirinya.

“Wait, aku tarik nafas dulu.” Ranisa membungkukkan badannya karena dia habis berlari. Setelah nafasnya mulai teratur dia kembali berdiri. “Rumah kamu dimana Set?”

“Di Perumahan Sumur Batu.”

“SERIUS????”

“iya, emang kenapa? Sambil jalan aja ya ke gerbang”

“Untunglah sama, aku pernah lihat kamu juga satu tj sama aku, tapi kayanya kamu waktu itu kamu ga liat aku ya?” akhirnya mereka ngobrol sambil jalan.

“Pas hari pertama kuliah itu? Akuu liat kamu kok di depan. Tapi abis kamu duduk aku ga liat lagi. Eh, maksudnya gua” karena Ranisa bicara pakai aku-kamu, Setya jadi ga sengaja ikutan kebawa gaya bicara Ranisa.

“Dasar, nanya kek apa kek. Datar banget dah.”

“Yaudah terus lo mau ngepain nanya-nanya dimana rumah gua.?”

“Bantuin aku dong Set. Besok bawa fotokopian banyak. Berat banget. Aku ga sanggup deh kalau bawa sendirian.” Pinta Ranisa dengan muka memelas.

“Emang Rumah lo dimana?”

“Perumahan Sumur batu juga kok! Aku kan juga pernah lihat kamu naik motor pas mau berangkat ke kampus. Tapi aku ga tau rumah kamu yang mana”

“Oh deket. Yaudah mau sekalian pulang bareng?”

“Boleh banget! Naik tj atau kamu bawa motor?”

“Aku bawa motor.”

“Tapi aku kan ga ada helm.”

“ga usah pake helm”

“kalo ada polisi gimana? Nanti kamu ditilang lagi?”

“Engga ada polisi kok?”

“Bener?”

“Iya. Yaudah lo mau bareng ga? Udah sampe motor gua nih?”

“Oiya aku ga nyadar. Cepet banget kamu jalannya, aku jadi ikutan cepet deh.”

“nih pake jaket gua aja.” Setya mengambil jaketnya di jok motor, dan memberikannya ke Ranisa.

“makasih Setyaaa.” Ranisa mengambil jaket tersebut dan memakainya.

Setya lalu mengeluarkan motornya. Setelah dinyalakan, Ranisa naik. “Nih pegang karcis sama ktm gua” kata Setya sambil menyerahkan karcis dan ktmnya. Ranisa lalu mengambil abrang tersebut. Dia melihat foto Setya di ktm ini orang ga ada ekspresinya apa ya, difoto aja mukanya datar. Batin Ranisa.

“Set, sekali-kali senyum napa. Mukanya datar gitu. Gilesan baju aja bergerigi.”

“apa hubungannya muka sama gilesan baju?” tanya Setya sambil menjalankan motornya.

“Gilesan baju masih ada ekspresinya. Muka kamu engga. Di foto aja muka datar.”

“Dasar ga nyambung. Ga ada hubungannya sama sekali.” Setya tersenyum tipis, Ranisa melihatnya dari kaca spion.

“Nah senyum gitu dong. Kan tambah ganteng.” Ranisa mengucungi jempol ke arah depan biar terlihat Setya. Setya yang menyadari spion kirinya mengarah ke Ranisa langsung membetulkannya ke sampai dapat view yang pas.

“Yah kok diubah, kan jadi ga keliatan mukanya Setya.”

“Kasih karcisnya buruan.”

“Ini mas karcisnya.” Ranisa memberikan karcis dat KTM Setya. Mahasiswa di sini parkir motor tidak bayar bila menunjukkan KTM atau kartu perpustakaannya. Setelah mengecek, penjaga parkir memberikan kembali KTMnya. “makasih ya mas,” ucap Ranisa. Penjaga parkir hanya membalas dengan senyum. Lalu Setya menjalankan motornya.


“Setya aku masukin tas kamu yang didepan ya KTMnya.” Yang ditanya diam saja, jadi Ranisa lanjut memasukan KTM Setya ke tasnya.

Ranisa dan Setya -Bersambung-
Day 25
#30DWC

Ranisa dan Setya


Me       : Set, masa di kelas aku ada yang namanya Setya juga.

Sesampainya di rumah dia langsung chat Setya, tapi sudah setengah jam tidak dibalas. Akhirnya Ranisa ke dapur dan makan siang. Sendirian. Beginilah Ranisa sehari-sehari. Aktivitas sendirian. Mungkin dia susah move on dari Setya karena itu salah satunya. Setya udah warnain hari-hari dia.

Setelah makan Ranisa kembali ke kamar, mencoba menulis sesuatu di laptopnya. Setya masih belum membalas chatnya. Memang beberapa hari ini Setya bilang lagi agak padat. Yaudahlah mungkin dia hari ini ga bakal chat lagi. Oiya dia lupa mengabari ayahnya kalau sudah sampai rumah. Dia langsung mengabari ayahnya dan mematikan hpnya. Dia malas berhubungan dengan orang. Malas mengharapkan balasan dari Setya. Lebih baik dia melakukan kegiatan lain biar lupa.

****

Sebulan sudah Ranisa kuliah. Dan sebulan lebih dia tidak bertemu dengan Setya, chatting juga jarang. Setya sepertinya sangat sibuk, dan dia juga mulai sibuk. Tapi Ranisa tidak merasa kesipian, karena dia ada Setya yang lain yang diam-diam selalu dia pikirkan.

Kuliah ada manis ada pahitnya. Manisnya banyak, bisa pake baju bebas sesuka hati, rambut bisa dimodelin gimana aja, belajar biologi pelajaran kesukaan dia, dan yang paling manisa, ada Setya di kelas! Pahitnya begini, saat dia memilih jurusan biologi karena salah satu alesannya biar ga dapet hitung-hitungan, ternyata semseter pertama dia dapet matematika dasar, fisika dasar, dan kimia dasar!

Okelah kimia masih bisa dia inget-inget karan biologi dan kimia cukup berhubungan. Tapi matematika dan kimia???? Ah dia Setya kan jago matematika, minta ajarinlah. Nyicil buat UTS.

Me       : Setyaaaaaa, masih inget matematika sama fisika ga? Masa aku dapet mata kuliah fisika dan matematika dasar:’(
Setya   : wkwkwk, pilih jurusan itu biar menghindari hitung-hintungan malah tetap dapet.
Me       : Setya aku seriuuuuuuusss. Yaaah kata dosen-dosennya sih pelajaran mipa itu saling berhubungan. Ga Cuma fisika sama matematika dasar aja aku dapet.  kimia aku juga dapet tau-_-
Setya   : Yaudah belajarlah
Me       : Ajarin.
Setya   : Belajar sendiri
Me       : Lupa L
Setya   : Yaudah mau kapan?
Me       : YEAAAAAYYYY
Me       : Minggu aja yakk. Kamu yang ke sini atau aku yang ke sana?
Setya   : Oke minggu aku ke sana.
Me       : kok tumben balesnya cepet?
Setya   : iyanih lagi senggang.
Me       : sering-seringlah senggangnya. Ema aja masih bisa bales chat aku.
Setya   : yah dia kan orangnya nyantai, kamu tau sendiri.
Me       : iyasih, kamu belajar lah nyantai kali-kali.
Setya   : hahahah, iya nanti aku cobalah.
Me       : iya harus dicoba. Masa masuk kuliah kamu langsung lupain aku.
Setya   : enggaklah,  aku ga lupa kok. Mau dapet ip bagus aku, mau aktif di hima juga Ran.
Me       : hooo, iya sih aku juga. Tapi kalau disini harus ikut latihan kepemimpinan dulu baru bisa daftar.
Setya   : ikut lah
Me       : ikut kok. Tapi belum mulai, mulainya minggu depan.
Setya   : Sip bagus. Jangan jadi kupu-kupu di kampus. Organisasi bisa buat nambahin di cv nanti.
Me       : Iya aku juga mikir begitu kook.
Setya   : kamu lagi apa?
Me       : Lagi belajar. Tapi inget kamu jago itung2ang jadi mau minta ajarin kamu dulu sebelum aku “sibuk” juga.
Setya   : Anak rajin. Yaudah nanti akhir pekan belajar sama pak guru ya.
Me       : Yes, Sir! Minggu siang jangan lupa yakkk aku tunggu pak guruu
Setya   : Sip aku dateng nanti
Me       : okee pak guru, bai baiiii. aku mau kembali bertugas
Setya   : bertugas dimana?
Me       : Meja belajar, lagi belajar memahami kimia :’)
Setya   : Semangatttt ;)

Ranisa mematikan hpnya kembali. Kalau ga dimatikan dia ga akan fokus belajar. Dia menyimpan hpnya di laci. Lalu kembali belajar. Kemarin lusa dia mendaftar UKM Keolahragaan, dia mau mencoba panahan. Tadinya dia mau masuk pecinta alam, tapi pasti sulit dapat izin ayahnya. Minggu besok udah mulai latihan di keolahragaan, berarti minggu ini harus bener-bener ngerti semua mata kuliah nih biar ga keteteran. Bati Ranisa, lalu dia membuat jadwal untuk kegiatannya sampai minggu ini.


Tiba-tiba dia teringat, kemarin sebelum berangkat dia kaya ngeliat Setya naik motor. Apa rumah Setya deket sini? Tapi dia ga nyapa, jadi ga tau itu Setya atau bukan. Habis dia pendiem juga sih ama cewek di kelas, mau nyapa juga segen. Yaudahlah biarin aja, kalau emang rumahnya di sini nanti juga ketemu lagi.


Ranisa dan Setya -bersambung-
Day 24
#30DWC