Setya menepati
janjinya. Jam 7 kurang dia sudah sampai depan rumah Ranisa. Ayah dan bundanya
Ranisa ada di samping putri mereka. Mereka mau tau laki-laki seperti apa yang
mau jemput anaknya. Walaupun mereka sibuk. Tapi mereka cukup protektive kepada
putrinya.
Setya mematikan
motornya, dan salam kepada orangtua ranisa. “Permisi om, tante saya mau jemput
Ranisa,”
Orang tua Ranisa tersenyum.
“Namanya Setya juga, De?” Tanya bundanya kepada Ranisa.
“Iya mah dia namanya
Setya. Udah yaa aku jalan”
“Sebentar. Kata Ranisa
Rumahmu deket sini, Setya? Disebelah mana?” Tahan ayahnya Ranisa.
“2 blok dari sini om.
Rumah nomer 4.” Jawab setya seadanya.
“Rumahnya pak RW?”
“iya, om.”
“Kamu anaknya pak RW?
Kok saya ga pernah lihat?”
“Saya baru pindah ke
Jakarta om. Udah 6 tahun di kampung.”
“Pantesan saya baru
melihat kamu di sini. Jadi ini yang baru, De? Selera kamu bagus juga.” Setya
hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya Ranisa. Dia mengerti maksudnya tapi
dia ga mau memperpanjang.
“Bukan ayah. Dia ketua
kelas aku. Aku minta tolong bawain ini fotocopyan. Kan berat kalau aku bawa
sendiri.” Jawab Ranisa malu, dia ga enak sama Setya karena ayah dan bundanya
jadi mikir kalau dia pacar Ranisa yang baru. “Udah Yah, Bun, Ade pergi dulu
ya.” Pamit Ranisa sambil mencium tangan orang tuanya lalu dia mengambil goody
bag yang berisi kertas fotocopyan.
“Sini Ran biar aku aja
yang bawa,” kata Setya sambil mengambil goody bag dari Ranisa, lalu dia pamit
kepada orangtuanya Ranisa, “om, tante kami berangkat dulu ya.”
“Iya hati-hati, ade
pulang nanti sama Setya lagi”
“engga bun nanti ade
pulang sendiri.”
“kok pulang sendiri?”
“Nanti saya anter kok
om, tante.” Jawab Setya, padahal dia hanya niat untuk membantu membawa
fotocopyan, tapi jadi berasa kaya abis kenalan sama calon mertua. Kalo gini mah
ga enak kalo ga bareng sama Ranisa lagi. Tapi gapapalah rumahnya deket ini,
pikir Setya.
“Setya maafin orang tuaku
ya. Padahal aku udah bilang kamu bukan pacar aku.” Kata Ranisa ketika mereka
sudah jalan. “Nanti kamu ga perlu anterin aku pulang gapapa kok. Aku jadi ga
enak sama kamu, sekali lagi maaf ya...” kata Ranisa, dia benar-benar merasa
bersalah.
“Iya ga apa apa kok
Ran. Nanti sekalian aku anterin kamu pulang juga ga apa-apa. Rumah kita searah
ini.”
“Serius Set??????
Makasih banyak yaaa!”
****
“yang mana yang kamu ga
ngerti?” Ini hari minggu dan Setya menepati janjinya untuk datang ke rumah
Ranisa membantunya belajar.
“Ajarin ajalah semuanya
yang kamu tau. Aku bingung semuanya.”
“Yaudah dari awal aja
ya.” Saran Setya, lalu dia mengambil dua buku tebal. “ mau matematika dulu atau
fisika?” tanyanya
“Fisikaa!”
Setya mulai mengajari
Ranisa. Bagi Ranisa, Setya adalah guru yang paling enak. Karena jika Setya
mengajari jadi terasa lebih mudah. Ranisa juga memang anak yang pintar, jadi
jika guru yang mengajar menjelaskannya enak, dia juga gampang masuk. Tapi dosen
yang mengajari fisika dasar tidak enak, jadi dia tidak terlalu mengerti.
Empat jam mereka
belajar fisika, dan akhirnya selesai. “wiii makasih ya Set, aku jadi ngerti
sekarang!”
“Iya gapapa, makanya
kamu kalau dosennya jelasin itu dengerin.” Ucap Setya sambil mengelus kepala
Ranisa.
“Aku dengerin kok, tapi
emang dosennya aja yang ga enak ngajarnya.” Ranisa membela diri. “Matematikanya
nanti aja yuk, kita makan dulu.”
Ranisa dan Setya turun
ke bawah. Mereka mulai memasak, hanya memasak nasi goreng. Tapi kalo berdua kan
lebih cepat.
“Sekarang Setya yang
lama nih, De?” tiba-tiba Arinda, kakak Ranisa keluar dari kamarnya. Kamarnya dia
ada di lantai bawah.”kamu masak apa? Kakak juga mau dong, laper nih.” Arinda
sambil mengelus perutnya, karena kelaparan.
“Apasih kak, orang Cuma
temen. Yang kemarin juga Cuma temen!” jawab Ranisa bete. Dia ga enak bahas
Setya yang di kampus karena ada Setya di sini. Dia melirik ke arah Setya, dia
terlihat bingung dengan pembicaraan Ranisa dan kakaknya. “Nanti aku jelasin,”
bisik Ranisa.
“yaudah masaknya buruan
ya kakak laper. Kalo udah nanti taro di kamar ya. Kakak mau keluar sebentar.” Jawab
Arinda.
“Iya kaaak.”
Ranisa dan Setya
melanjutkan memasak. Setelah selesai
Ranisa menyiapkan 3 piring untuk nasi gorengnya. Satu piring dia masukkan ke
kamar kakaknya. Lalu dia kembali lagi ke dapur, mengambil piring bagiannya dan
kembali ke kamarnya bersama Setya.
“Maksud kakak kamu
Setya yang lama siapa Ran?” Tanya Setya sembari mereka berjalan.
“Kamu.” Jawab Ranisa
santai.
“Ada yang baru
emamngnya?”
“Ada.” Ranisa jawab
spontan, “Eh bukan maksudnya di kelas aku ada yang namanya Setya juga. Terus kemarin
pas hari jumat dia anterin aku ke kampus bawain fotocopyan materi.”
“Emang harus dia ya
yang bantuin kamu?” Setya tampak ga suka. Sepertinya dia cemburu.
“Iya Cuma dia yang
bisa. Pertama, dia ketua kelas. Kedua, rumah dia di sini.”
“di sini?”
“iya di komplek ini,
anak pak rw dia.”
“hmmm..”
“kok tampang kamu
begitu? Cemburu ni yeee.” Ranisa meledek Setya, entah kenapa dia seneng Setya
masih cemburu. “Lagian kan aku pernah bilang ke kamu di kelas ada yang namanya
Setya, tapi kamu ga ngerespon. Huft. Yaudah deh aku ga ngebahas lagi.”
Mereka sampai di kamar,
lalu mulai makan sambil berbincang-bincang. “emang pernah?”
“Pernah. Nih lihat ya,
sebentar aku ambil hp dulu.” Ranisa mengambil hpnya di laci meja dan mulai
mencari percakapannya dengan Setya ketika dia bilng ada nama Setya juga. Setelah
ketemu dia menunjukkannya ke Setya. “Nih liat.”
Setya melihat-lihat
obrolannya. Ternyata memang ada dan dia ga sadar, dia hanya terfokus pada chat
paling bawah, “Oiya aku ga sadar, aku Cuma engeh chat kamu yang minta diajarin”
jawabnya.
“Iya emang! Itu aja
kamu balesnya lama” sahut Ranisa dengan nada bete.
“maaf, maaf. Aku lagi
sibuk-sibuknya kemarin.”Setya merasa bersalah. Dia memang benar-benar merasa
bersalah. Coba aja dia lebih perhatian, mungkin Ranisa bisa meminta bantuannya,
bukan malah meminta bantuan Setya yang di kampusnya. Dia merasa cemburu, entah
kenapa dia merasa bodoh beberapa bulan yang lalu melepas Ranisa. Tapi dia ga
boleh plin-plan tiba-tiba sekarang meminta Ranisa balikan.
“Yaudah gapapa. Udah terjadi
juga, makanya kalo sibuk lihat-lihat chat juga dong kalo lagi senggang dikit.” Saran
ranisa.
“Iya deh nanti aku
sering-sering chat kamu tembem,” kata Setya sambil mecubit pipi Ranisa. Dia gemas
sekali dengan gadis yang pernah dimilikinya ini.
“Yaudah yuk makanannya
dihabiskan dulu abis itu kita belajar lagi.” Ranisa bahagia akhirnya
persoalannya dengan Setya selesai dan Setya akan chat dia lagi, semoga saja
Setya bener-bener akan chat dia.
Ranisa dan Setya -bersambung-
Day 27
#30DWC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar