Minggu, 01 Januari 2017

Ranisa dan Setya


Setya menepati janjinya. Jam 7 kurang dia sudah sampai depan rumah Ranisa. Ayah dan bundanya Ranisa ada di samping putri mereka. Mereka mau tau laki-laki seperti apa yang mau jemput anaknya. Walaupun mereka sibuk. Tapi mereka cukup protektive kepada putrinya.

Setya mematikan motornya, dan salam kepada orangtua ranisa. “Permisi om, tante saya mau jemput Ranisa,”

Orang tua Ranisa tersenyum. “Namanya Setya juga, De?” Tanya bundanya kepada Ranisa.

“Iya mah dia namanya Setya. Udah yaa aku jalan”

“Sebentar. Kata Ranisa Rumahmu deket sini, Setya? Disebelah mana?” Tahan ayahnya Ranisa.

“2 blok dari sini om. Rumah nomer 4.” Jawab setya seadanya.

“Rumahnya pak RW?”

“iya, om.”

“Kamu anaknya pak RW? Kok saya ga pernah lihat?”

“Saya baru pindah ke Jakarta om. Udah 6 tahun di kampung.”

“Pantesan saya baru melihat kamu di sini. Jadi ini yang baru, De? Selera kamu bagus juga.” Setya hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya Ranisa. Dia mengerti maksudnya tapi dia ga mau memperpanjang.

“Bukan ayah. Dia ketua kelas aku. Aku minta tolong bawain ini fotocopyan. Kan berat kalau aku bawa sendiri.” Jawab Ranisa malu, dia ga enak sama Setya karena ayah dan bundanya jadi mikir kalau dia pacar Ranisa yang baru. “Udah Yah, Bun, Ade pergi dulu ya.” Pamit Ranisa sambil mencium tangan orang tuanya lalu dia mengambil goody bag yang berisi kertas fotocopyan.

“Sini Ran biar aku aja yang bawa,” kata Setya sambil mengambil goody bag dari Ranisa, lalu dia pamit kepada orangtuanya Ranisa, “om, tante kami berangkat dulu ya.”

“Iya hati-hati, ade pulang nanti sama Setya lagi”

“engga bun nanti ade pulang sendiri.”

“kok pulang sendiri?”

“Nanti saya anter kok om, tante.” Jawab Setya, padahal dia hanya niat untuk membantu membawa fotocopyan, tapi jadi berasa kaya abis kenalan sama calon mertua. Kalo gini mah ga enak kalo ga bareng sama Ranisa lagi. Tapi gapapalah rumahnya deket ini, pikir Setya.

“Setya maafin orang tuaku ya. Padahal aku udah bilang kamu bukan pacar aku.” Kata Ranisa ketika mereka sudah jalan. “Nanti kamu ga perlu anterin aku pulang gapapa kok. Aku jadi ga enak sama kamu, sekali lagi maaf ya...” kata Ranisa, dia benar-benar merasa bersalah.

“Iya ga apa apa kok Ran. Nanti sekalian aku anterin kamu pulang juga ga apa-apa. Rumah kita searah ini.”

“Serius Set?????? Makasih banyak yaaa!”

****

“yang mana yang kamu ga ngerti?” Ini hari minggu dan Setya menepati janjinya untuk datang ke rumah Ranisa membantunya belajar.

“Ajarin ajalah semuanya yang kamu tau. Aku bingung semuanya.”

“Yaudah dari awal aja ya.” Saran Setya, lalu dia mengambil dua buku tebal. “ mau matematika dulu atau fisika?” tanyanya

“Fisikaa!”

Setya mulai mengajari Ranisa. Bagi Ranisa, Setya adalah guru yang paling enak. Karena jika Setya mengajari jadi terasa lebih mudah. Ranisa juga memang anak yang pintar, jadi jika guru yang mengajar menjelaskannya enak, dia juga gampang masuk. Tapi dosen yang mengajari fisika dasar tidak enak, jadi dia tidak terlalu mengerti.

Empat jam mereka belajar fisika, dan akhirnya selesai. “wiii makasih ya Set, aku jadi ngerti sekarang!”

“Iya gapapa, makanya kamu kalau dosennya jelasin itu dengerin.” Ucap Setya sambil mengelus kepala Ranisa.

“Aku dengerin kok, tapi emang dosennya aja yang ga enak ngajarnya.” Ranisa membela diri. “Matematikanya nanti aja yuk, kita makan dulu.”

Ranisa dan Setya turun ke bawah. Mereka mulai memasak, hanya memasak nasi goreng. Tapi kalo berdua kan lebih cepat.

“Sekarang Setya yang lama nih, De?” tiba-tiba Arinda, kakak Ranisa keluar dari kamarnya. Kamarnya dia ada di lantai bawah.”kamu masak apa? Kakak juga mau dong, laper nih.” Arinda sambil mengelus perutnya, karena kelaparan.

“Apasih kak, orang Cuma temen. Yang kemarin juga Cuma temen!” jawab Ranisa bete. Dia ga enak bahas Setya yang di kampus karena ada Setya di sini. Dia melirik ke arah Setya, dia terlihat bingung dengan pembicaraan Ranisa dan kakaknya. “Nanti aku jelasin,” bisik Ranisa.

“yaudah masaknya buruan ya kakak laper. Kalo udah nanti taro di kamar ya. Kakak mau keluar sebentar.” Jawab Arinda.

“Iya kaaak.”

Ranisa dan Setya melanjutkan  memasak. Setelah selesai Ranisa menyiapkan 3 piring untuk nasi gorengnya. Satu piring dia masukkan ke kamar kakaknya. Lalu dia kembali lagi ke dapur, mengambil piring bagiannya dan kembali ke kamarnya  bersama Setya.

“Maksud kakak kamu Setya yang lama siapa Ran?” Tanya Setya sembari mereka berjalan.

“Kamu.” Jawab Ranisa santai.

“Ada yang baru emamngnya?”

“Ada.” Ranisa jawab spontan, “Eh bukan maksudnya di kelas aku ada yang namanya Setya juga. Terus kemarin pas hari jumat dia anterin aku ke kampus bawain fotocopyan materi.”

“Emang harus dia ya yang bantuin kamu?” Setya tampak ga suka. Sepertinya dia cemburu.

“Iya Cuma dia yang bisa. Pertama, dia ketua kelas. Kedua, rumah dia di sini.”

“di sini?”

“iya di komplek ini, anak pak rw dia.”

“hmmm..”

“kok tampang kamu begitu? Cemburu ni yeee.” Ranisa meledek Setya, entah kenapa dia seneng Setya masih cemburu. “Lagian kan aku pernah bilang ke kamu di kelas ada yang namanya Setya, tapi kamu ga ngerespon. Huft. Yaudah deh aku ga ngebahas lagi.”

Mereka sampai di kamar, lalu mulai makan sambil berbincang-bincang. “emang pernah?”

“Pernah. Nih lihat ya, sebentar aku ambil hp dulu.” Ranisa mengambil hpnya di laci meja dan mulai mencari percakapannya dengan Setya ketika dia bilng ada nama Setya juga. Setelah ketemu dia menunjukkannya ke Setya. “Nih liat.”

Setya melihat-lihat obrolannya. Ternyata memang ada dan dia ga sadar, dia hanya terfokus pada chat paling bawah, “Oiya aku ga sadar, aku Cuma engeh chat kamu yang minta diajarin” jawabnya.

“Iya emang! Itu aja kamu balesnya lama” sahut Ranisa dengan nada bete.

“maaf, maaf. Aku lagi sibuk-sibuknya kemarin.”Setya merasa bersalah. Dia memang benar-benar merasa bersalah. Coba aja dia lebih perhatian, mungkin Ranisa bisa meminta bantuannya, bukan malah meminta bantuan Setya yang di kampusnya. Dia merasa cemburu, entah kenapa dia merasa bodoh beberapa bulan yang lalu melepas Ranisa. Tapi dia ga boleh plin-plan tiba-tiba sekarang meminta Ranisa balikan.

“Yaudah gapapa. Udah terjadi juga, makanya kalo sibuk lihat-lihat chat juga dong kalo lagi senggang dikit.” Saran ranisa.

“Iya deh nanti aku sering-sering chat kamu tembem,” kata Setya sambil mecubit pipi Ranisa. Dia gemas sekali dengan gadis yang pernah dimilikinya ini.


“Yaudah yuk makanannya dihabiskan dulu abis itu kita belajar lagi.” Ranisa bahagia akhirnya persoalannya dengan Setya selesai dan Setya akan chat dia lagi, semoga saja Setya bener-bener akan chat dia.

Ranisa dan Setya -bersambung-
Day 27
#30DWC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar